Novel why
Author POV
“Nana cepetan , Kalo telat jangan nyalahin gue lo.” Teriak Dava dari bawah yang sangat kesal karena Natasya tak kunjung keluar dari kamarnya.
“Iya, bentar.” Teriak Natasya kembali. Rambut panjangnya yang selalu di gerai dan dilengkapi tas berwarna biru dan sepatu warrior yang biasa dia kenakan ke sekolah. Natasya tidak pernah memakai make up ke sekolah, dia ke sekolah tanpa memakai polesan apapun dan dengan tubuhnya yang lumayan kecil dan tinggi untuk perempuan. Setelah semuanya telah rapih Natasya langsung menurunin anak tangga rumahnya dengan sedikit berlari.
“Ayo berangkat.” Ucap Natasya ceria
“Lama banget sih lo! Udah tau kita telat dan lo malah keliatan ceria gitu” Ucap Dava kesal.
“sorry deh kalau gue lama. Entahlah, sekarang gue lagi seneng aja.” Ucap Natasya dengan dengan nada yang ceria
“Yeuu, Yaudah kita langsung berangkat aja.”
“Yu, Mama mana?” Ucap nana sambil melihat kanan kiri mencari sang mama
“Hmm, MAMAAA..” Dava memnggil mama nya dengan suara yang keras
Dan keluarlah seorang paruh baya yaitu Mama dari Dava dan Natasya yang bernama Nadine Syakilla Arthaz dari arah dapur.
“Ma, kita berangkat dulu ya.” Ucap Dava seraya salam kepada Mamanya bersamaan dengan Natasya.
“Hati hati ya bawa mobilnya.”
“Iya ma, Assalamualaikum.” Ucap Dava dan Natasya bersamaan .
“Waalaikumsalam.” Jawab Nadine.
Natasya POV
Aku berjalan disepanjang koridor sekolah dengan selalu tersenyum, entahlah apa yang membuatku senang. Aku hanya ingin melupakan sejenak masalah masalah yang selalu ada di fikiranku. Setelah selesai menaiki tangga aku langsung memasuki kelas XII IPA 2. Disana sudah ada Calista yang sudah duduk di bangkunya dan kini sedang memperhatikanku, pasti sebentar lagi dia akan bertanya kepadaku mengapa aku terlihat ceria.
“Heh, kerasukan apa lo? Dari tadi lo masuk kelas sampe sekarang lo duduk disamping gue lo senyum senyum gini. Apa jangan jangan lo gila kali ya? Serem gue jadinya” Ucap Calista panjang lebar. Seperti dugaan gue, Dia pasti bakal ngomong gitu.
“Ya terus, kalau gue gila lo gabakal mau temenan sama gue lagi gitu? Hm?”
“Gue bakal temenan sama lo kok.”
“Yakin? Kan kata lo gue gila terus kata lo juga serem.”
“Yakinlah, kan gue baik mau temenan sama orang gila yang seremnya kaya lo itu.” Ucap Calista dengan tertawa terbahak-bahak itupun karena Dia menertawaiku.”
“Sialan Lo, Lis.” Ucapku dengan sedikit kesal. Dan pada saat itupun rombongan squad cogan memasuki kelas ini. Ya, gue sekelas dengan para cogan yang sebenarnya mereka itu gesrek semua termasuk saudara gue, Dava. Ketika mereka datang ke kelas ini semua wanita mulai cuci mata dan menghentikan aktivitawa kas yang sedang dilakukannya, termasuk Calista yang berhenti tertawa karena mereka datang.
“Na cogan dateng Na” Ucapnya dengan terpesona
“Kalau cogannya Chanyeol atau ga Jungkook gue baru terpesona.” Ucapku, dan setelah itu aku langsung memainkan hpku.
KRIINGGG
Ya itu bel masuk. Ketika guru masuk aku langsung mematikan hp ku dan menaruhnya di kolong meja.
***
KRINGGG KRIINGGG KRINGGGG
Kini suara bel berbunyi 3 kali , dan itu adalah bel yang sangat ditunggu tunggu oleh seluruh siswa. Aku langsung memasukkan buku ku dan menggendong tasku , sama halnya juga dengan Lista.
“Na, Nanti pulang gue mau ada latihan basket. Jadi lo pulang duluan aja.” Ucap Dava dari belakangku. Yap, Dava duduk dibelakangku, dan dia duduk dengan si jenius dan muka datar si Nathan.
“Okee abang.” Jawabku tersenyum lebar.
“Gila ya lo, dari tadi pagi senyum senyum mulu.” Ucap Dava heran.
“Lebih baik gue sering senyum dari pada sering ngedatarin muka kek orang disamping lo itu.” Ucap gue tersenyum lagi seraya melirik kearah Nathan.
“Eh Nath, Coba lo tuh seringin senyum dan tuh muka jangan didatarin mulu.” Ucapku lagi, dan Nathan hanya menatapku saja tanpa menjawab.
“Kayak Abang Vino dong, kalau senyum banyak cewe yang klepek klepek” Ucap vino dengan gaya ala ala cherybelle dengan mata yang dikedip kedipkan.
“Halah, lo shipper Cherybelle Vin, sampe gayanya aja tau.” Ucap Angga Geli
“Geli gue sama gaya lo Vin, Mana sok imut lagi” Ucap Davin sama gelinya dengan Angga. Aku hanya tersenyum melihat mereka bertingkah seperti anak kecil itu.
“Ini namanya kedipan mata manjaahhh” Seru Vino Dengan suara yang dimanjakan.
“Geli gue.” Ucap Nathan tiba tiba membuatku menatapnya lekat. Tumben sekali dia ikut berbicara.
“Lo ngomong Nath? Wahh. Suka gue liat lo ngomong dua kata.” Ucapku dan Nath cuman mlihatku dengan alis yang dinaikkan.
“Ciee Nana, Suka sama Nathan.” Ucap Callista tiba tiba tanpa disaring terlebih dahulu kata katanya.
“Nana suka sama cowo? Ga percaya gue.” Sialan si Angga ini.
“ Heh, lo kira gue lesbian apa. Yailah gue suka sama cowo bukan cewe” Ucapku kesal
“Jadi bener lo suka sama Nathan? Wah adek gue mulai jatuh cinta nih.” Ucap Dava
“Ciee, Nana suka sama Nathan ciee” Ucap mereka serempak
“Heh kalian salah paham ya, gue bukan suka sama orangnya tapi karna dia ngomong lebih dari dua kata.” Ucapku sangat geram pada mereka
“Oh.” Ucap Nathan sangat singkat. Dasar menyebalkan.
“Lo lagi nyebelin, bukannya belain gue malah cuman bilang oh doang lagi.”
“Pengen banget dibelain Abang Nathan ya Na.” Ucap Vino si kompor menggodaku dengan katan katanya. Dan yang lain malah tertawa puas.
“Maksud gue bukan gitu, maksud gue itu… ah taulah, mending gue pulang , Ayo Lis pulang.” Gue langsung menarik tangan callista dan keluar kelas. Dan sekarang mood ku ancur gara gara mereka, huh.
***
Akhirnya sampai depan rumah, aku langsung keluar dari mobilnya dan mngucapkan kata terima kasih padanya. Callista ke sekolah memang suka membawa mobil, jadi jika Dava tidak bisa mengantarku pulang aku akan ikut bersama Callista.
Ketika aku membuka pintu rumah, aku mendapati mama yang sedang duduk di sofa.
“Assalamualaikum.” Ucapku
“Waalaikumsalam.” Ucap Mama hanya melihatku dan setelah itu kembali melihat majalah.
Aku langsung berjalan kearah Mama dan mencium tangannnya.
“Dava mana?” ucap mama
“Abang mau ada latihan basket di sekolah katanya, jadi Nana pulang dianter callista.”
“Oh.” Ucap Mamaku singkat, sangat singkat.
“Ya udah deh, Nana ke kamar dulu ya, Ma.” Ucapku. Dan Mama hanya mengabaikan perkataan ku.
Aku menaiki tangga dengan mata berkaca-kaca, aku langsung membuka pintu kamarku berwarna biru dan menutupnya kembali. Aku terduduk di kasurku. Sakit rasanya jika Mama kandungku sendiri harus bersikap dingin padaku selama 3 tahun terakhir ini. Aku tau, aku memang yang menyebabkan mamaku sendiri bersikap seperti ini padaku. Dikamar ini, aku selalu menangis sendirian merindukan sesosok ayah yang selalu memberikanku semngat dan sesosok Ibu yang selalu membangunkan ku pagi hari dan mendengarkan setiap aku ingin bercerita padanya. Tapi sekarang, aku merasa sendirian, aku terpuruk, aku ingin berteriak sekeras mungkin. Aku tidak tau caranya agar Mamaku tidak bersikap dingin lagi padaku, aku ingin seperti Abangku Dava yang selalu disayang Mama.
“Ya Tuhan, kenapa rasanya sesakit ini .. hiks .. apa yang harus aku lakukan? Aku tahu itu semua salahku, tapi apakah setelah kejadian itu .. hiks .. tidak akan mendapatkan kasih sayang seorang Ibu? .. hiks .. hiks.. Papa, Nana kangen Papa .. hiks .. Kenapa itu semua harus terjadi sama Papa? Bukan sama Nana sendiri? Hiks.. hiks .. Pa, Nana pengen ikut Papa, disini Nana cuman ngerepotin Mama Pa. Nana takut kalau Mama beneran ga sayang lagi sama Nana, Pa. Nana pengen meluk Papa , ngeluarin semua rasa sakit ini Pa.. hiks hiks..” Aku menangis sesenggukan karena merindukan keduanya, aku langsung berbaring di kasurku tanpa mengganti seragam terlebih dahulu. Seketika mataku terasa berat dan aku mulai menutup mata bersamaan dnegan air mata yang keluar dari kelopak mataku.
Natasya POV END
Author POV
Tanpa sepengatuan Natasya, Nadine mendengar tangisan dan juga kata kata yang dikeluarkan Natasya di dalam kamarnya. Tanpa Nadine sadari air matanya keluar ‘maafkan Mama Na, Mama bersikap seperti ini karena setiap melihatmu peristiwa masa lalu akan teringat kembali dan sakit hati itu akan datang kembali.’ Batin Nadine dalam hati. Setelah itu Nadine jalan meninggalkan kamar Natasya dan menuju kamarnya.
***
“Eh, Dav itu bukannya handphone Nana ya, kayaknya ketinggalan deh, Dav.” Ucap Davin menunjuk ke kolong bangku Nana.
“Ohiya bener, dasar adek ceroboh.” Ucap Dava seraya mengambil handphonenya.
“Kembaran lo emang ceroboh.” Ucap Nathan tiba-tiba dengan senyum tipisnya yang membuat Dava ternganga tidak percaya.
“Lo? Gue ga salah denger kan?” Tanya Dava heran
“Lo sehat kan Nath?” Tanya Angga sama degan Dava yang tidak percaya
“Kembaran.Lo.emang.ceroboh. Empat kata men.” Ucap Vino dengan menunjukkan 4 jarinya .
“kalau Nana disini, pasti dia seneng lo ngomong empat kata Nath.” Goda Dava pada Nathan.
“Apa gara gara Nana ngomong kalu dia suka kalau Lo ngomong lebih dari 1 kata makanya sekarang lo ngomong lebih dari satu itu karena Nana?” Tanya Davin membuat Nathan tersenyum tipis. ‘Lucu memang melihat orang salah tingkah.’ Batin Dava.
“Wahh, sepertinya ada bau bau orang jatuh cinta nih. Ngakku lo kalau lo suka sama Nana?” Tanya Vino membuat Nathan lagi lagi tersenyum tipis.
“Hm, Entahlah. Yaudah yuk latihan keburu sore.” Ucap Nathan langsung keluar kelas.
“Wahh, ga percaya gue.” Seru Vino
“Apalagi gue.” Ucap Dava
“Mending kita jangan bilang dulu ke Nana, biar dianya sendiri yang bilang ke Nana tentang perasaannya.” Ucap Davin dengan bijaknya dengan disetujui oleh yang lainnya. Dan mereka pun langsung keluar kelas untuk bermain basket.
Author POV END
Natasya POV
Kini aku ada disebuah pameran yang sangat ramai, dan banyak kendaraan yang berlalu lalang. Ketika aku melihat ada sebuah boneka beruang besar berwarna biru aku minta dibelikannya kepada Mama. Dan disana ada Abang dan Papa yang menyuruhku kesana dengan melambaikan tangannya.
“Ma, Nana pengen beli boneka itu.” Pintaku kepada Mama, dan Mama sedang sibuk melihat lihat pernak pernik disana.
“Ma ayoo.” Pintaku kembali seraya menarik narik baju Mama.
“Sebentar sayang”
“Ayo Ma, disana udah ada Abang sama Papa.”
“Sebentar sayang, lagian boneka itu ga akan ada yang beli kan.” Ucap Mama tanpa melihatku. Aku kesal, dan aku langsung berlari menuju tempat boneka di sebrang jalan sana. Tanpa melihat kanan kiri, aku tetap berlari. Dan ketika itu, aku melihat ada sebuah cahaya lampu sangat terang yang kutahu itu mobil. Apakah aku akan tertabrak? “AAAKKKKKK” . Tapi aku merasa ada yang mendorongku agar aku tidak tertabrak, dan ketika aku tau siapa yang menolongku dan akhirnya tertabrak, aku langsung berlari kearahny ayang kini telah tergeletak ditengah jalan dengan darah yang bersimbar..
“PAPAAAA…” Teriakku
“Nana, lo kenapa.” Tanya Davin, entah sejak kapan sudah ada di kamarku. Davin langsung berjalan kearahku. Aku memeluknya sambil menangis.
“Lo kenapa? Kenapa nyebut nama Papa terus lo nangis?”
“Gue mim..pi peristiwa du..lu Va, hiks.. hiks..” Jawabku tersedu sedu.
“Udah sekarang lo jangan nangis lagi ok? Lo jangan nginget nginget peristiwa itu lagi”
“Mana bisa gue lupa Dav? Gue yang nyebabin Papa meninggal. Dan karena gue juga Mama kehilangan orang yang disayanginya.” Ucapku melepas pelukannya .
“Iya gue ngerti, tapi sebentar lagi kita bakal UN Na, dan lo jangan terlalu stress sama maslah itu.” Ucap Dava menenangkanku. Dan memelukku kembali.
“Nana kangen Papa, Bang. Nana pengen ikut Papa, biar nana ga dicuekkin Mama lagi.” Ucapku terus menangis, Dava hanya menganggukkan kepala, dan aku tau Dava ikut menangis.
“Yaudah, sekarang Nana ganti baju terus mandi. Udah itu Nana turun dan makan.” Aku hanya mengangguk dan setelah itu Davin keluar dari kamarku.
Author POV
Setelah dari kamar Natasya, Dava turun kebawah dan mendapati Nadine yang sedang duduk di sofa yang sedang menonton tv. Dan Dava langsung menghampirinya dan duduk disampingnya.
“Ma, apa ga keterlaluan kalau Mama harus bersikap dingin ke Nana?”
“ Maksud kamu?”
“Dava kesian ngeliat Nana yeng terus terusan nangis kalau setiap harinya Mama cuekkin, dan Mama bersikap dingin sama Nana. Nana butuh kasih sayang dari Mama, apa mama ga kasian sama Nana? Nana Itu sayang banget sama Nana. Dan Nana selalu ngerasa kesepian, Ma. Nana iri kalau harus liat Aku bisa ngobrol panjang gini sama Mama”
“Kamu fikir cuma Nana aja yang ngerasa kesepian? Mama juga! Setiap Mama liat Nana, hati Mama kembali merasa sakit dan Mama belum bisa maafin Nana. Mama engga benci sama Nana, tapi Mama belum bisa terima atas kematian Papa.” Ucap Nadine menatap lekat mata Dava dan setelah itu menunduk menangis. Dava yang tidak bisa melihat orang yang disayanginya menangis, segera memeluknya dan Dava pun ikut mengeluarkan air matanya.
“Seengganya Mama jangan bersikap tidak peduli lagi ke Nana.” Seru Dava yang tidak direspon oleh Nadine. Tanpa mereka sadari, Nana mendengar semuanya dari atas, sebelum ke membersihkan diri, tadinya Nana mau mengambil minum di dapur, namun langkahnya terhenti ketika Dava mulai berbincang dengan Mamanya.
Lagi lagi, Nana menangis ketika mendengar kata kata Mamanya, niat ingin mengambill minum Natasya urungkan. Natasya kembali masuk kekamarnya dan membersihkan dirinya.
***
Hari ini Natasya sangat berbeda. Hari ini Natasya sangat pendiam. Sekarang tidak ada Natasya yang ceria dan selalu tersenyum dan cerewet. Hari ini sekolah sedang free karena guru sedang mengadakan rapat, maka dari itu Natasya menggunakan waktunya untuk pergi ke rooftop sekolah seorang diri.
Natasya bingung harus mengatakan keluh kesahnya pada siapa, Ia ingin bercerita pada Calista, tapi hari ini Callista izin tidak ke sekolah. Natasya hanya bisa melamun , kapan dia bisa disayang oleh Mamanya kembali seperti dulu. Ketika itu, ada seseorang yang sedari tadi memperhatikan Natasya.
“Kalo lo ga kuat, lo boleh nangis. Jangan di pendem terus, yang ada malah sakit nantinya.” Ucap orang itu yang kini berdiri disampping Natasya.
“Lo? Ngapain lo kesini?” Tanya Natasya kaget.
“Gue emang sering kesini, dan lo ngapain kesini? Sendirian pula.” Jawab laki laki itu.
“Gue ga ngapa ngapain kok.”
“Mata lo sembab, Na?” Tanya orang itu sambil memperhatikan mata Natasya
“Gue ga nangis ko” Jawab Natasya mengusap matanya itu.
“Gue ga ngomong lo nangis apa engga, tapi gue nanya kenapa mata lo sembab.”
“Eh, itu maksud gue tuh, mat ague ga sembab ko.” Jawab Natasya gelagapan.
“Kalau lo mau cerita , cerita aja sama gue, biar hati lo itu jadi tenang.” Ucap Nathan Sambil melihat ke arah Natasya. Natasya tertegun apa yang diucapakan oleh Nathan. Keduanya sama-sama terdiam dan suasana menjadi hening. Akhirnya Natasya yang memulai perbincangan diantara keduanya.
“Nath, kapan ya gue bisa disayang Mama gue lagi?” Tanya Natasya dengan pandangan tertuju kedepan.
“Maksud lo?” Tanya Nathan yang tidak percaya atas pertanyaan Natasya.
“Mama gue sekarang ngedinginin gue bahkan ga peduli lagi sama gue. Gue tau Mama kayak gini juga karena gue. Mama kehilangan Papa juga karena gue. Karena gue papa meninggal, karena kecerobohan gue Papa ketabrak mobil. Dan karena gue Dava kehilangan Papa. Tapi gue juga kehilangan Papa Nath, gue emang anak yang bisanya bikin orang tua susah. Dan sekarang gue ngerasa kesepian Nath.” Natasya menunduk dan kini air matanya basah oleh air mata yang sedari tadi turun. Nathan tidak tega melihat Natasya menangis seperti ini. Ditarik tangan Natasya kepelukannya untuk menenangkannya.
“Lo ga boleh sedih Na. Ada gue disini, lo boleh cerita apapun ke gue, gue bakalan denger semua curhatan lo. Dan jangan pernah lo pendem masalah yang lo punya kalau kahirnya lo sendiri yang bakal ngerasain sakitnya.” Ucap Nathan panjang lebar. Natasya melepaskan pelukannya dan tersenyum simpul setelah Nathan mengatakan hal itu.
“Lo kenapa senyum senyum gitu? Tadi aja nangis.” Tanya Nathan dengan nada yang lembut.
“Hari ini lo ngomong banyak ke gue, gue seneng deh” senyum Natasya melebar
”Gue kayak gini juga karna lo.” Nathan pun ikut tersenyum.
“Ciee senyum, cakep deh.” Natasya mulai kembali ke sifat semulanya.
“Lo cantik kalo lagi senyum apalagi ketawa.” Ucap Nathan membuat Natasya blushing.
“Emm, Nath, lo mau ga anter gue ke pemakaman Papa pulang sekolah?”
“Boleh ko.” Jawab Nathan menanggukkan kepala dan tersenyum.
***
Sekarang mereka sudah berada di tempat pemakan papanya Natasya. Natasya berjongkok di samping pemakan Papanya dan mengelus Pemakaman itu dengan tulus.
“Hai Pa? Nana kangen sama Papa.. Nana kalau mau ke pemakaman Papa harus sembunyi sembunyi biar ga ketauan Mama. Soalnya Mama ga ngizinin Nana jenguk Papa disini.” Ucap Nana seraya menghapus air matanya yang turun.
“Oh iya Pa, kenalin ini temen Nana, Namanya Nathanial Afraz. Sekarang dia jadi temen curhat Nana, jadi Nana ga ngerasa kesepian lagi.”
“Hai om.” Sapa Nathan berjongkok sambil mengelus makan papa Natasya.
Ketika itu, Nadine datang bersama Dava ke makam. Natasya melihat keduanya datang langsung berdiri bersamaan dengan Nath. Saat melihat Natasya disana, Nadine langsung menghampirinya dengan cepat dan menamparnya. Natasya kaget menerima tamparan itu dengan tiba tiba dan langsung meringis kesakitan dibagian bibir bawahnya.
“MAMA. APA YANG MAMA LAKUIN?” Bentak Dava pada Mamanya.
“Kamu? Ngapain kamu datang ke pemakaman suami saya? Kamu tidak berhak datang kesini apalagi untuk menyentuh Nisannya.” Ucap Nadine emosi.
“Tapi Ma, Nana anak Papa juga , Nana kangen Papa juga.” Jawab Natasya menangis
“Apa kamu bilang? Anak ? Apa maksudmu anak yang membuat Papanya sendiri meninggal? HAH? Karna kamu saya kehilangan suami saya, dan karna kamu Dava kehilangan Papanya! Kenapa dulu ga kamu aja yang tertabrak dulu, mungkin suami saya masih ada hingga sekarang!” ucap Nadine mengucapkan hal itu membuat Natasya menangis semakin jadi. Natsya, Dava, dan Nathan kaget mendengar ucapan Nadine barusan.
“Apa? .. Nana ga salah denger kan Ma? Apa Mama juga ingin Nana Mati sejak dulu? Atau bahkan jangan jangan Mama Menyesal karna telah melahirkan Nana? Dan apakah Mama akan merasa senang jika Nana telah tiada didunia ini? BENAR MA?” Ucap Natasya dengan air mata yang tak kunjung berhenti.
“ITU SEMUA BENAR. DAN SAYA MENYESAL MELAHIRKANMU KEDUNIA INI” Ucap Nadine membuat membuat jantung ketiganya terutama Natasya copot.
“o..o..ohh.. maaf Ma kalau Nana selalu ngerepotin Mama.” Ucap Natasya tidak percaya dan langsung lari pergi meninggalkan tempat itu yang membuatnya ingin lenyap dari bumi sekarang juga. Nathan ikut mengejar Natasya.
Disisi lain, Dava tidak percaya apa yang dikatakan Mamanya. Sama halnya dengan Nadine, dia tidak per
Natasya terus berlari tanpa melihat kearah mana iya berlari. Sampai akhirnya Natasya terpental jauh karena iya tertabrak sebuah truk. Nathan yang melihat langsung berteriak memanggil nama Nana
“Nana cepetan , Kalo telat jangan nyalahin gue lo.” Teriak Dava dari bawah yang sangat kesal karena Natasya tak kunjung keluar dari kamarnya.
“Iya, bentar.” Teriak Natasya kembali. Rambut panjangnya yang selalu di gerai dan dilengkapi tas berwarna biru dan sepatu warrior yang biasa dia kenakan ke sekolah. Natasya tidak pernah memakai make up ke sekolah, dia ke sekolah tanpa memakai polesan apapun dan dengan tubuhnya yang lumayan kecil dan tinggi untuk perempuan. Setelah semuanya telah rapih Natasya langsung menurunin anak tangga rumahnya dengan sedikit berlari.
“Ayo berangkat.” Ucap Natasya ceria
“Lama banget sih lo! Udah tau kita telat dan lo malah keliatan ceria gitu” Ucap Dava kesal.
“sorry deh kalau gue lama. Entahlah, sekarang gue lagi seneng aja.” Ucap Natasya dengan dengan nada yang ceria
“Yeuu, Yaudah kita langsung berangkat aja.”
“Yu, Mama mana?” Ucap nana sambil melihat kanan kiri mencari sang mama
“Hmm, MAMAAA..” Dava memnggil mama nya dengan suara yang keras
Dan keluarlah seorang paruh baya yaitu Mama dari Dava dan Natasya yang bernama Nadine Syakilla Arthaz dari arah dapur.
“Ma, kita berangkat dulu ya.” Ucap Dava seraya salam kepada Mamanya bersamaan dengan Natasya.
“Hati hati ya bawa mobilnya.”
“Iya ma, Assalamualaikum.” Ucap Dava dan Natasya bersamaan .
“Waalaikumsalam.” Jawab Nadine.
Natasya POV
Aku berjalan disepanjang koridor sekolah dengan selalu tersenyum, entahlah apa yang membuatku senang. Aku hanya ingin melupakan sejenak masalah masalah yang selalu ada di fikiranku. Setelah selesai menaiki tangga aku langsung memasuki kelas XII IPA 2. Disana sudah ada Calista yang sudah duduk di bangkunya dan kini sedang memperhatikanku, pasti sebentar lagi dia akan bertanya kepadaku mengapa aku terlihat ceria.
“Heh, kerasukan apa lo? Dari tadi lo masuk kelas sampe sekarang lo duduk disamping gue lo senyum senyum gini. Apa jangan jangan lo gila kali ya? Serem gue jadinya” Ucap Calista panjang lebar. Seperti dugaan gue, Dia pasti bakal ngomong gitu.
“Ya terus, kalau gue gila lo gabakal mau temenan sama gue lagi gitu? Hm?”
“Gue bakal temenan sama lo kok.”
“Yakin? Kan kata lo gue gila terus kata lo juga serem.”
“Yakinlah, kan gue baik mau temenan sama orang gila yang seremnya kaya lo itu.” Ucap Calista dengan tertawa terbahak-bahak itupun karena Dia menertawaiku.”
“Sialan Lo, Lis.” Ucapku dengan sedikit kesal. Dan pada saat itupun rombongan squad cogan memasuki kelas ini. Ya, gue sekelas dengan para cogan yang sebenarnya mereka itu gesrek semua termasuk saudara gue, Dava. Ketika mereka datang ke kelas ini semua wanita mulai cuci mata dan menghentikan aktivitawa kas yang sedang dilakukannya, termasuk Calista yang berhenti tertawa karena mereka datang.
“Na cogan dateng Na” Ucapnya dengan terpesona
“Kalau cogannya Chanyeol atau ga Jungkook gue baru terpesona.” Ucapku, dan setelah itu aku langsung memainkan hpku.
KRIINGGG
Ya itu bel masuk. Ketika guru masuk aku langsung mematikan hp ku dan menaruhnya di kolong meja.
***
KRINGGG KRIINGGG KRINGGGG
Kini suara bel berbunyi 3 kali , dan itu adalah bel yang sangat ditunggu tunggu oleh seluruh siswa. Aku langsung memasukkan buku ku dan menggendong tasku , sama halnya juga dengan Lista.
“Na, Nanti pulang gue mau ada latihan basket. Jadi lo pulang duluan aja.” Ucap Dava dari belakangku. Yap, Dava duduk dibelakangku, dan dia duduk dengan si jenius dan muka datar si Nathan.
“Okee abang.” Jawabku tersenyum lebar.
“Gila ya lo, dari tadi pagi senyum senyum mulu.” Ucap Dava heran.
“Lebih baik gue sering senyum dari pada sering ngedatarin muka kek orang disamping lo itu.” Ucap gue tersenyum lagi seraya melirik kearah Nathan.
“Eh Nath, Coba lo tuh seringin senyum dan tuh muka jangan didatarin mulu.” Ucapku lagi, dan Nathan hanya menatapku saja tanpa menjawab.
“Kayak Abang Vino dong, kalau senyum banyak cewe yang klepek klepek” Ucap vino dengan gaya ala ala cherybelle dengan mata yang dikedip kedipkan.
“Halah, lo shipper Cherybelle Vin, sampe gayanya aja tau.” Ucap Angga Geli
“Geli gue sama gaya lo Vin, Mana sok imut lagi” Ucap Davin sama gelinya dengan Angga. Aku hanya tersenyum melihat mereka bertingkah seperti anak kecil itu.
“Ini namanya kedipan mata manjaahhh” Seru Vino Dengan suara yang dimanjakan.
“Geli gue.” Ucap Nathan tiba tiba membuatku menatapnya lekat. Tumben sekali dia ikut berbicara.
“Lo ngomong Nath? Wahh. Suka gue liat lo ngomong dua kata.” Ucapku dan Nath cuman mlihatku dengan alis yang dinaikkan.
“Ciee Nana, Suka sama Nathan.” Ucap Callista tiba tiba tanpa disaring terlebih dahulu kata katanya.
“Nana suka sama cowo? Ga percaya gue.” Sialan si Angga ini.
“ Heh, lo kira gue lesbian apa. Yailah gue suka sama cowo bukan cewe” Ucapku kesal
“Jadi bener lo suka sama Nathan? Wah adek gue mulai jatuh cinta nih.” Ucap Dava
“Ciee, Nana suka sama Nathan ciee” Ucap mereka serempak
“Heh kalian salah paham ya, gue bukan suka sama orangnya tapi karna dia ngomong lebih dari dua kata.” Ucapku sangat geram pada mereka
“Oh.” Ucap Nathan sangat singkat. Dasar menyebalkan.
“Lo lagi nyebelin, bukannya belain gue malah cuman bilang oh doang lagi.”
“Pengen banget dibelain Abang Nathan ya Na.” Ucap Vino si kompor menggodaku dengan katan katanya. Dan yang lain malah tertawa puas.
“Maksud gue bukan gitu, maksud gue itu… ah taulah, mending gue pulang , Ayo Lis pulang.” Gue langsung menarik tangan callista dan keluar kelas. Dan sekarang mood ku ancur gara gara mereka, huh.
***
Akhirnya sampai depan rumah, aku langsung keluar dari mobilnya dan mngucapkan kata terima kasih padanya. Callista ke sekolah memang suka membawa mobil, jadi jika Dava tidak bisa mengantarku pulang aku akan ikut bersama Callista.
Ketika aku membuka pintu rumah, aku mendapati mama yang sedang duduk di sofa.
“Assalamualaikum.” Ucapku
“Waalaikumsalam.” Ucap Mama hanya melihatku dan setelah itu kembali melihat majalah.
Aku langsung berjalan kearah Mama dan mencium tangannnya.
“Dava mana?” ucap mama
“Abang mau ada latihan basket di sekolah katanya, jadi Nana pulang dianter callista.”
“Oh.” Ucap Mamaku singkat, sangat singkat.
“Ya udah deh, Nana ke kamar dulu ya, Ma.” Ucapku. Dan Mama hanya mengabaikan perkataan ku.
Aku menaiki tangga dengan mata berkaca-kaca, aku langsung membuka pintu kamarku berwarna biru dan menutupnya kembali. Aku terduduk di kasurku. Sakit rasanya jika Mama kandungku sendiri harus bersikap dingin padaku selama 3 tahun terakhir ini. Aku tau, aku memang yang menyebabkan mamaku sendiri bersikap seperti ini padaku. Dikamar ini, aku selalu menangis sendirian merindukan sesosok ayah yang selalu memberikanku semngat dan sesosok Ibu yang selalu membangunkan ku pagi hari dan mendengarkan setiap aku ingin bercerita padanya. Tapi sekarang, aku merasa sendirian, aku terpuruk, aku ingin berteriak sekeras mungkin. Aku tidak tau caranya agar Mamaku tidak bersikap dingin lagi padaku, aku ingin seperti Abangku Dava yang selalu disayang Mama.
“Ya Tuhan, kenapa rasanya sesakit ini .. hiks .. apa yang harus aku lakukan? Aku tahu itu semua salahku, tapi apakah setelah kejadian itu .. hiks .. tidak akan mendapatkan kasih sayang seorang Ibu? .. hiks .. hiks.. Papa, Nana kangen Papa .. hiks .. Kenapa itu semua harus terjadi sama Papa? Bukan sama Nana sendiri? Hiks.. hiks .. Pa, Nana pengen ikut Papa, disini Nana cuman ngerepotin Mama Pa. Nana takut kalau Mama beneran ga sayang lagi sama Nana, Pa. Nana pengen meluk Papa , ngeluarin semua rasa sakit ini Pa.. hiks hiks..” Aku menangis sesenggukan karena merindukan keduanya, aku langsung berbaring di kasurku tanpa mengganti seragam terlebih dahulu. Seketika mataku terasa berat dan aku mulai menutup mata bersamaan dnegan air mata yang keluar dari kelopak mataku.
Natasya POV END
Author POV
Tanpa sepengatuan Natasya, Nadine mendengar tangisan dan juga kata kata yang dikeluarkan Natasya di dalam kamarnya. Tanpa Nadine sadari air matanya keluar ‘maafkan Mama Na, Mama bersikap seperti ini karena setiap melihatmu peristiwa masa lalu akan teringat kembali dan sakit hati itu akan datang kembali.’ Batin Nadine dalam hati. Setelah itu Nadine jalan meninggalkan kamar Natasya dan menuju kamarnya.
***
“Eh, Dav itu bukannya handphone Nana ya, kayaknya ketinggalan deh, Dav.” Ucap Davin menunjuk ke kolong bangku Nana.
“Ohiya bener, dasar adek ceroboh.” Ucap Dava seraya mengambil handphonenya.
“Kembaran lo emang ceroboh.” Ucap Nathan tiba-tiba dengan senyum tipisnya yang membuat Dava ternganga tidak percaya.
“Lo? Gue ga salah denger kan?” Tanya Dava heran
“Lo sehat kan Nath?” Tanya Angga sama degan Dava yang tidak percaya
“Kembaran.Lo.emang.ceroboh. Empat kata men.” Ucap Vino dengan menunjukkan 4 jarinya .
“kalau Nana disini, pasti dia seneng lo ngomong empat kata Nath.” Goda Dava pada Nathan.
“Apa gara gara Nana ngomong kalu dia suka kalau Lo ngomong lebih dari 1 kata makanya sekarang lo ngomong lebih dari satu itu karena Nana?” Tanya Davin membuat Nathan tersenyum tipis. ‘Lucu memang melihat orang salah tingkah.’ Batin Dava.
“Wahh, sepertinya ada bau bau orang jatuh cinta nih. Ngakku lo kalau lo suka sama Nana?” Tanya Vino membuat Nathan lagi lagi tersenyum tipis.
“Hm, Entahlah. Yaudah yuk latihan keburu sore.” Ucap Nathan langsung keluar kelas.
“Wahh, ga percaya gue.” Seru Vino
“Apalagi gue.” Ucap Dava
“Mending kita jangan bilang dulu ke Nana, biar dianya sendiri yang bilang ke Nana tentang perasaannya.” Ucap Davin dengan bijaknya dengan disetujui oleh yang lainnya. Dan mereka pun langsung keluar kelas untuk bermain basket.
Author POV END
Natasya POV
Kini aku ada disebuah pameran yang sangat ramai, dan banyak kendaraan yang berlalu lalang. Ketika aku melihat ada sebuah boneka beruang besar berwarna biru aku minta dibelikannya kepada Mama. Dan disana ada Abang dan Papa yang menyuruhku kesana dengan melambaikan tangannya.
“Ma, Nana pengen beli boneka itu.” Pintaku kepada Mama, dan Mama sedang sibuk melihat lihat pernak pernik disana.
“Ma ayoo.” Pintaku kembali seraya menarik narik baju Mama.
“Sebentar sayang”
“Ayo Ma, disana udah ada Abang sama Papa.”
“Sebentar sayang, lagian boneka itu ga akan ada yang beli kan.” Ucap Mama tanpa melihatku. Aku kesal, dan aku langsung berlari menuju tempat boneka di sebrang jalan sana. Tanpa melihat kanan kiri, aku tetap berlari. Dan ketika itu, aku melihat ada sebuah cahaya lampu sangat terang yang kutahu itu mobil. Apakah aku akan tertabrak? “AAAKKKKKK” . Tapi aku merasa ada yang mendorongku agar aku tidak tertabrak, dan ketika aku tau siapa yang menolongku dan akhirnya tertabrak, aku langsung berlari kearahny ayang kini telah tergeletak ditengah jalan dengan darah yang bersimbar..
“PAPAAAA…” Teriakku
“Nana, lo kenapa.” Tanya Davin, entah sejak kapan sudah ada di kamarku. Davin langsung berjalan kearahku. Aku memeluknya sambil menangis.
“Lo kenapa? Kenapa nyebut nama Papa terus lo nangis?”
“Gue mim..pi peristiwa du..lu Va, hiks.. hiks..” Jawabku tersedu sedu.
“Udah sekarang lo jangan nangis lagi ok? Lo jangan nginget nginget peristiwa itu lagi”
“Mana bisa gue lupa Dav? Gue yang nyebabin Papa meninggal. Dan karena gue juga Mama kehilangan orang yang disayanginya.” Ucapku melepas pelukannya .
“Iya gue ngerti, tapi sebentar lagi kita bakal UN Na, dan lo jangan terlalu stress sama maslah itu.” Ucap Dava menenangkanku. Dan memelukku kembali.
“Nana kangen Papa, Bang. Nana pengen ikut Papa, biar nana ga dicuekkin Mama lagi.” Ucapku terus menangis, Dava hanya menganggukkan kepala, dan aku tau Dava ikut menangis.
“Yaudah, sekarang Nana ganti baju terus mandi. Udah itu Nana turun dan makan.” Aku hanya mengangguk dan setelah itu Davin keluar dari kamarku.
Author POV
Setelah dari kamar Natasya, Dava turun kebawah dan mendapati Nadine yang sedang duduk di sofa yang sedang menonton tv. Dan Dava langsung menghampirinya dan duduk disampingnya.
“Ma, apa ga keterlaluan kalau Mama harus bersikap dingin ke Nana?”
“ Maksud kamu?”
“Dava kesian ngeliat Nana yeng terus terusan nangis kalau setiap harinya Mama cuekkin, dan Mama bersikap dingin sama Nana. Nana butuh kasih sayang dari Mama, apa mama ga kasian sama Nana? Nana Itu sayang banget sama Nana. Dan Nana selalu ngerasa kesepian, Ma. Nana iri kalau harus liat Aku bisa ngobrol panjang gini sama Mama”
“Kamu fikir cuma Nana aja yang ngerasa kesepian? Mama juga! Setiap Mama liat Nana, hati Mama kembali merasa sakit dan Mama belum bisa maafin Nana. Mama engga benci sama Nana, tapi Mama belum bisa terima atas kematian Papa.” Ucap Nadine menatap lekat mata Dava dan setelah itu menunduk menangis. Dava yang tidak bisa melihat orang yang disayanginya menangis, segera memeluknya dan Dava pun ikut mengeluarkan air matanya.
“Seengganya Mama jangan bersikap tidak peduli lagi ke Nana.” Seru Dava yang tidak direspon oleh Nadine. Tanpa mereka sadari, Nana mendengar semuanya dari atas, sebelum ke membersihkan diri, tadinya Nana mau mengambil minum di dapur, namun langkahnya terhenti ketika Dava mulai berbincang dengan Mamanya.
Lagi lagi, Nana menangis ketika mendengar kata kata Mamanya, niat ingin mengambill minum Natasya urungkan. Natasya kembali masuk kekamarnya dan membersihkan dirinya.
***
Hari ini Natasya sangat berbeda. Hari ini Natasya sangat pendiam. Sekarang tidak ada Natasya yang ceria dan selalu tersenyum dan cerewet. Hari ini sekolah sedang free karena guru sedang mengadakan rapat, maka dari itu Natasya menggunakan waktunya untuk pergi ke rooftop sekolah seorang diri.
Natasya bingung harus mengatakan keluh kesahnya pada siapa, Ia ingin bercerita pada Calista, tapi hari ini Callista izin tidak ke sekolah. Natasya hanya bisa melamun , kapan dia bisa disayang oleh Mamanya kembali seperti dulu. Ketika itu, ada seseorang yang sedari tadi memperhatikan Natasya.
“Kalo lo ga kuat, lo boleh nangis. Jangan di pendem terus, yang ada malah sakit nantinya.” Ucap orang itu yang kini berdiri disampping Natasya.
“Lo? Ngapain lo kesini?” Tanya Natasya kaget.
“Gue emang sering kesini, dan lo ngapain kesini? Sendirian pula.” Jawab laki laki itu.
“Gue ga ngapa ngapain kok.”
“Mata lo sembab, Na?” Tanya orang itu sambil memperhatikan mata Natasya
“Gue ga nangis ko” Jawab Natasya mengusap matanya itu.
“Gue ga ngomong lo nangis apa engga, tapi gue nanya kenapa mata lo sembab.”
“Eh, itu maksud gue tuh, mat ague ga sembab ko.” Jawab Natasya gelagapan.
“Kalau lo mau cerita , cerita aja sama gue, biar hati lo itu jadi tenang.” Ucap Nathan Sambil melihat ke arah Natasya. Natasya tertegun apa yang diucapakan oleh Nathan. Keduanya sama-sama terdiam dan suasana menjadi hening. Akhirnya Natasya yang memulai perbincangan diantara keduanya.
“Nath, kapan ya gue bisa disayang Mama gue lagi?” Tanya Natasya dengan pandangan tertuju kedepan.
“Maksud lo?” Tanya Nathan yang tidak percaya atas pertanyaan Natasya.
“Mama gue sekarang ngedinginin gue bahkan ga peduli lagi sama gue. Gue tau Mama kayak gini juga karena gue. Mama kehilangan Papa juga karena gue. Karena gue papa meninggal, karena kecerobohan gue Papa ketabrak mobil. Dan karena gue Dava kehilangan Papa. Tapi gue juga kehilangan Papa Nath, gue emang anak yang bisanya bikin orang tua susah. Dan sekarang gue ngerasa kesepian Nath.” Natasya menunduk dan kini air matanya basah oleh air mata yang sedari tadi turun. Nathan tidak tega melihat Natasya menangis seperti ini. Ditarik tangan Natasya kepelukannya untuk menenangkannya.
“Lo ga boleh sedih Na. Ada gue disini, lo boleh cerita apapun ke gue, gue bakalan denger semua curhatan lo. Dan jangan pernah lo pendem masalah yang lo punya kalau kahirnya lo sendiri yang bakal ngerasain sakitnya.” Ucap Nathan panjang lebar. Natasya melepaskan pelukannya dan tersenyum simpul setelah Nathan mengatakan hal itu.
“Lo kenapa senyum senyum gitu? Tadi aja nangis.” Tanya Nathan dengan nada yang lembut.
“Hari ini lo ngomong banyak ke gue, gue seneng deh” senyum Natasya melebar
”Gue kayak gini juga karna lo.” Nathan pun ikut tersenyum.
“Ciee senyum, cakep deh.” Natasya mulai kembali ke sifat semulanya.
“Lo cantik kalo lagi senyum apalagi ketawa.” Ucap Nathan membuat Natasya blushing.
“Emm, Nath, lo mau ga anter gue ke pemakaman Papa pulang sekolah?”
“Boleh ko.” Jawab Nathan menanggukkan kepala dan tersenyum.
***
Sekarang mereka sudah berada di tempat pemakan papanya Natasya. Natasya berjongkok di samping pemakan Papanya dan mengelus Pemakaman itu dengan tulus.
“Hai Pa? Nana kangen sama Papa.. Nana kalau mau ke pemakaman Papa harus sembunyi sembunyi biar ga ketauan Mama. Soalnya Mama ga ngizinin Nana jenguk Papa disini.” Ucap Nana seraya menghapus air matanya yang turun.
“Oh iya Pa, kenalin ini temen Nana, Namanya Nathanial Afraz. Sekarang dia jadi temen curhat Nana, jadi Nana ga ngerasa kesepian lagi.”
“Hai om.” Sapa Nathan berjongkok sambil mengelus makan papa Natasya.
Ketika itu, Nadine datang bersama Dava ke makam. Natasya melihat keduanya datang langsung berdiri bersamaan dengan Nath. Saat melihat Natasya disana, Nadine langsung menghampirinya dengan cepat dan menamparnya. Natasya kaget menerima tamparan itu dengan tiba tiba dan langsung meringis kesakitan dibagian bibir bawahnya.
“MAMA. APA YANG MAMA LAKUIN?” Bentak Dava pada Mamanya.
“Kamu? Ngapain kamu datang ke pemakaman suami saya? Kamu tidak berhak datang kesini apalagi untuk menyentuh Nisannya.” Ucap Nadine emosi.
“Tapi Ma, Nana anak Papa juga , Nana kangen Papa juga.” Jawab Natasya menangis
“Apa kamu bilang? Anak ? Apa maksudmu anak yang membuat Papanya sendiri meninggal? HAH? Karna kamu saya kehilangan suami saya, dan karna kamu Dava kehilangan Papanya! Kenapa dulu ga kamu aja yang tertabrak dulu, mungkin suami saya masih ada hingga sekarang!” ucap Nadine mengucapkan hal itu membuat Natasya menangis semakin jadi. Natsya, Dava, dan Nathan kaget mendengar ucapan Nadine barusan.
“Apa? .. Nana ga salah denger kan Ma? Apa Mama juga ingin Nana Mati sejak dulu? Atau bahkan jangan jangan Mama Menyesal karna telah melahirkan Nana? Dan apakah Mama akan merasa senang jika Nana telah tiada didunia ini? BENAR MA?” Ucap Natasya dengan air mata yang tak kunjung berhenti.
“ITU SEMUA BENAR. DAN SAYA MENYESAL MELAHIRKANMU KEDUNIA INI” Ucap Nadine membuat membuat jantung ketiganya terutama Natasya copot.
“o..o..ohh.. maaf Ma kalau Nana selalu ngerepotin Mama.” Ucap Natasya tidak percaya dan langsung lari pergi meninggalkan tempat itu yang membuatnya ingin lenyap dari bumi sekarang juga. Nathan ikut mengejar Natasya.
Disisi lain, Dava tidak percaya apa yang dikatakan Mamanya. Sama halnya dengan Nadine, dia tidak per
Natasya terus berlari tanpa melihat kearah mana iya berlari. Sampai akhirnya Natasya terpental jauh karena iya tertabrak sebuah truk. Nathan yang melihat langsung berteriak memanggil nama Nana
Komentar
Posting Komentar